Pendekatan Ilmu Sains
Kemampuan seseorang berbeza-beza dalam menafsirkan al-Qur’an, ada yang mampu memahami al-Qur’an dari aspek matematik, psikologi, astronomi, fizik, biologi, anatomi, teknologi, genetika, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan keluasan kandungan al-Qur’an yang mencakupi berbagai disiplin ilmu tidak hanya mengikat sekitar perbahasan seperti balaghah, nahwu, sharaf, ulumul qur’an seperti asbabun nuzul, makki madani, nasikh mansukh, qashashul qur’an, ilmu tafsir, dan sebagainya.
Ulumul Qur’an adalah sebuah pisau atau metodologi untuk dapat membuka dan menelaah al-Qur’an secara lebih mendalam dan luas sebagaimana beberapa kitab Ulumul Qur’an yang sudah popular di kalangan umat Islam seperti al-Burhan Ulum al-Qur’an karya al-Zarkasyi, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an karya al-Suyuthiy, al-Nasikh wa al-Mansukh karya Ibnu Salamah, al-Tibyan fi Ulum al-Qur’an karya al-Shabuniy, Mabahits fi ‘ulum al-Qur’an karya al-Qaththan, dan lain sebagainya masih banyak lagi.
Ini sebuah metodologi, kita boleh mengembangkan secara lebih luas lagi jika tengah menemukan teori-teori baru yang dapat memberikan pemahaman baru terhadap umat Islam. Pendekatan al-Qur’an terkadang tidak hanya dapat didekati dengan satu titik ilmu saja, namun memerlukan beberapa pendekatan ilmu lain seperti perubatan, psikologi, teknologi, matematika, fizik, biologi, anatomi, genetik, dan sebagainya.
Misalnya, dalam surat al-Baqarah: 234 yang bermakna setiap istri yang ditinggalkan mati oleh para suaminya mempunyai ‘iddah harus menunggu selama empat bulan sepuluh hari jika hendak menikah lagi. Dalam teori usul fikih, maqashid dari adanya ayat ini adalah bertujuan Li Bara`ati al-Rahmi artinya untuk melihat ada atau tidak adanya janin di dalam rahim si perempuan tersebut. Logika saat ini, sekarang untuk melihat ada atau tidaknya janin tak perlu menunggu sampai empat bulan sepuluh hari, cukup dengan USG kita dapat melihat ada dan tidaknya janin tersebut sebelum waktu yang dicantumkan dalam al-Qur’an.
Ayat tersebut seolah-olah tidak tahu dengan adanya perkembangan teknologi masa kini, seakan-akan tak berlaku kembali apa yang disebutkan empat bulan sepuluh hari dalam al-Qur’an itu. Akan tetapi, ada seorang pakar genetika, Robert Guilhem yang menemukan ayat tentang masa ‘iddah perceraian di dalam al-Quran surat al-Baqarah: 228 yang bermakna, para istri yang dicerai hendaknya menunggu selama tiga kali suci. Para ulama sepakat tiga kali suci itu adalah tiga bulan. Pertanyaan dari seorang Robert Guilhem, mengapa harus menunggu selama tiga bulan?
Setelah sekian lama meneliti, ternyata setiap perempuan yang menikah kemudian mereka bercerai, maka bekas mantan suaminya dapat hilang selama tiga bulan, sebelum tiga bulan bekas tersebut masih ada di perempuan tersebut, apalagi setelah empat bulan sepuluh hari. Lihat lengkapnya Robert Guilhem: http://indonesia.faithfreedom.org/forum/robert-guilhem-gara-gara-iddah-masuk-islam-t49976/#p883179.
Hal ini menunjukkan bahwa, al-Qur’an perlu pendekatan ilmu-ilmu al-Qur’an dan beberapa aspek disiplin ilmu sains supaya lebih terasa manisnya bagi orang yang kehausan, petunjuknya bagi orang yang dalam kegelapan, ubat bagi orang yang sedang sakit jiwanya, dan bagi semua orang yang hendak menyelami lautan ilmu dan hidayah dari al-Qur’an.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/06/28/35953/al-quran-dan-ilmu-ilmu-al-quran/#ixzz4dFh7IjQB
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook






0 ulasan:
Catat Ulasan